“Fik, gimana sih caranya nulis?”

“Bang, gue mau nulis nih tapi bingung cara mulainya gimana? Ajarin dong!”

“Bro, kasih tau dong tips biar bisa nulis?”

Pertanyaan di atas sering mampir di DM Instagram dan pesan WhatsApp saya. Mungkin di antara kamu ada yang punya pemikiran sama seperti mereka. Tenang aja, rupanya kita senasib tapi beda nasab. Hahaha.

Saya ingat betul, selepas acara The Power of Dhuha, saya mengantar pembicara pulang ke Ciputat. Kala itu narasumbernya adalah Ustaz Hizbullah, Dai Muda ANTV. Di usianya yang masih muda, mahasiswa UIN Jakarta ini sudah menulis buku. Saya jadi teringat impian semasa sekolah dulu, mau nulis buku pribadi.

“Ustaz, caranya bikin buku gimana?” tanya saya sembari menunggu lampu merah di perempatan Permata Hijau.

“Sebenarnya sih gampang, Fik, syaratnya ada dua aja. Ada kemauan dan mulai nulis,” balas Ustaz Hizbullah dengan suara aksen ketimur-timuran. Seingat saya, beliau asli NTB.

Sudah beberapa tahun berlalu, kontak saya dengan Ustaz Hizbullah pun sudah hilang. Tapi, sejarah kembali terulang dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Banyak orang yang bertanya, gimana caranya nulis buku.

Mari kita diskusi bareng, ini resep ajaib saya nulis buku:

Pertama, Berhentilah Bertanya

Pernah dengar kisah Yahudi bersama Nabi Musa soal sapi emas?

Dosa besar orang-orang Yahudi itu adalah terlalu banyak bertanya. Memang tujuannya supaya dapat jawaban yang rinci. Hanya saja dalam beberapa kasus, banyak bertanya justru menyesatkan.

Termasuk untuk urusan mulai menulis. Berhentilah bertanya. Karena pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan,” berlaku kala kita sudah mulai perjalanan ke satu tempat. Bukan saat kita masih baru rencana mau jalan.

Kedua, Tulislah yang Dekat

Maksudnya, tulislah segala sesuatu yang kamu ketahui, kuasai, gelisahi, dan alami. Selama ini kebanyakan orang bukan enggak tahu gimana mau nulis tapi lebih kepada mereka belum tahu mau nulis tentang apa. Padahal jika sudah tahu mau nulis apa, semuanya bisa mengalir dengan cepat.

Simpelnya, tulislah hal yang dekat dengan kamu.

Ketiga, RE-WRITE

Sederhananya, rumus ketiga ini adalah menulis ulang apa yang sudah kamu baca. Ingat, menulis itu seperti kamu menuangkan ide, ilmu, pengalaman, pemikiran, dan pandangan ke naskah kosong. Jika otak kamu kosong, mana mungkin bisa menuang naskah.

Dengan pola RE-WRITE ini, otak jadi terisi dan kamu bisa mengisi naskah jadi tulisan. Syarat utamanya, dilarang plagiat. Artinya, kamu tetap wajib menulis sesuai dengan gaya bahasa sendiri. Tidak boleh mencontek kata per katanya.

Nah, itu tadi 3 CARA MULAI MENULIS ala penulis pemula. Tiga trik di atas, sering saya lakukan dulu. Bahkan sampai sekarang, masih saya praktikkan. Jadi, ini berlaku tidak hanya buat penulis pemula.

Beidewei, trik mana yang mau kamu terapkan?